Ibadah

Manusia di lahirkan didunia tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menyembah kepada Tuhan. di dunia Manusia menjadi alat tuhan. Ibaratkan pabrik motor yang mengeluarkan produk baru, kemudian dilakukan test drive, ajang perlombaan, untuk mengukur kualitas dari produk tersebut. Begitu juga manusia. Mereka yang lulus akan menjadi berkah didunia (rahmattan lil alamin) dan mereka yang tidak lulus tidak akan jadi apa-apa dan harus menempuh ujian lagi.

Ketika diwajibkan menyembah kepada Tuhan, pengertiannya adalah ibadah. Konsep ibadah adalah relo ( ikhlas). Tidak pernah mengharapkan sesuatu. Tidak pernah mengharap pahala, sorga, dan apapun yang indah-indah. Bukankah ketika mencoba berharap, itu sama dengan tidak ikhlas (riya’). Seperti orang jawa sering bilang, “mbalik ilat”. Coba sekarang tanyakan kepada anak-anak kita, “Kalian sembahyang mencari apa?”, mereka dengan polos akan menjawab “ Saya ingin dapat pahala dan biar masuk surga”. Saya tidak tahu siapa yang mengajari mereka menjawab itu. Yang jelas anak-anak lebih suka meniru orang dewasa. Itupun terjadi saat saya masih berumur puluhan hingga belasan tahun. Belum lagi orang tua saya saat melarang saya untuk menerima makanan dari saudara kita dengan keyakinan yang beda. Terdengar jelas dalam kuping saya , “Jangan itu hukumnya Haram untuk dimakan !!!!!” Kalau sudah begitu siapa yang patut disalahkan ? manusianya, sistim pendidikan, agama, atau lingkungan.

Dijaman sekarang ada sebuah fenomena yang menarik, banyak orang berlomba-lomba untuk membangun tempat ibadah dengan standar yang sangat megah dan wah. Alasannya macam-macam, ada yang mengatakan sebagai persembahan untuk Tuhan, dan wajib karena itu adalah rumah Tuhan. Adapula yang mengatakan agar banyak orang datang ketempat ibadah, dan yang paling parah adalah Tempat ibadah itu dibangun sedemikan rupa hanya untuk menyaingi bangunan ibadah yang lain. Lagi-lagi Tuhan menjadi alat legitimasi tindakan manusia untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Ibadah lebih diukur dari segi kuantitas dan mengenyampingkan kualitas, yang terjadi Ibadah tidak lebih sebagai ajang pameran. Urusan spiritual coba ditarik ke dalam urusan-urusan sosial, seakan – akan kita akan bisa masuk surga dan menuju Tuhan bisa secara massal. Pernah kah kita mendengar sebuah cerita bahwa perjalanan menuju Tuhan itu lebih bersifat pribadi, antara manusia sebagai individu dengan Tuhannya. Begitulah ibadah masalah penilaian tidak lagi menjadi hak manusia, semua mutlak ditangan Sang Pencipta. Semua kembali kepada hati, niatan dan keiklasan kita.

Comments

  1. ipam says:

    Segala sesuatu ada penyakitnya….

Leave a Reply