Lamunan

Ayam jantan bersuara lantang. Berkali-kali, tak bosan memberi kabar pada penghuni alam, tak terkecuali aku, akan datangnya sang fajar. Ku buka jendela kamar, terlihat langit timur merona, memerah jingga di ujungnya. Burung Undauru keluar dari sarang bersiap mencarikan anak-anaknya makan, yang dua hari lalu menetas di sarang jalinan paruhnya.

Burung Pundara menyeruak dari balik dedaunan pohon pandan, kemudian terbang dan hinggap di atas genting. Undauru dan Pundara berkicau bersahutan seakan pamerkan suara. Dengan secangkir kopi aku nikmati pagi.

Angin berhembus basah menerpa kulit muka, sengaja aku biarkan sambil menunggu sinar sang surya. Aku rindukan belaiannya, aku rindukan sentuhannya aku mimpikan diriku Ikshvaku sang wangsa surya, yang selalu haus akan kehangatannya. Tapi tidak, semakin lama aku bercanda, bergelut, bercumbu, tubuhku terasa panas, tubuhku menolaknya, pikirku tersadar, aku bukanlah sang Iksvaku.

Alam imaji ku terbuka, UdauruPundara, masuk memenuhinya. Aku terbang bersama mereka. Saling kejar, saling mendahului, terbang bebas ke angkasa luas tanpa batas, hamparan sawah nan hijau, luasnya samudera penuh lukisan buih putih gelombang, gunung-gunung gagah menjulang tenang, dengan merah magma bergejolak amarah.Aku lihat dunia! Saat sayap ini kuyu menyelimuti. Hinggaplah aku dari satu pohon ke pohon yang lain. Hingga satu ketika aku jatuh menuju tanah. Sebutir putih biji timah menembus dada. Di pangkuan tanah tubuhku berada. Aku mendengar suara, perlahan dan semakin jelas memanggilku, “akan kah aku mati?” Dan semakin keras, aku terhenyak. Istriku datang dengan amarah, mengomel lalu pergi begitu saja tanpa memberikan ruang aku menyela.

Leave a Reply