Home » Article / Essay / Opinion / Sketch » Mempertanyakan diri-sendiri

Mempertanyakan diri-sendiri

Diriku terdiam,termenung atau pura-pura merenung, aku pun lupa. Yang teringat waktu itu aku sedang berkutat dengan pikiran, mencoba bermain teka – teki silang secara mandiri-sendiri. Di awali sebuah pertanyaan siapakah aku? jawaban belum ditemukan, menyusul pertanyaan berikutnya, kenapa aku harus ada didunia? kenapa wujudku manusia? “Stop berhenti dulu, jangan lagi ada pertanyaan,”  ucap mulutku meskipun tidak bersuara.

Berpikir dan mencari penjelasan, Lama ku putar,ku remas dan peras otak pikirku, tetap saja tidak kutemukan selilit jawaban yang membuat batin ini lega. Yah sudah kulanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, Adakah satu misi yang melatar belakangi aku harus ada? Siapakah yang telah membuat proposalnya?. Coba memulai lagi mencari jawaban lebih sistematis dengan pertanyaan terstruktur. Apa betul hanya karena nafsu orang tua ku?, dari sperma yang katanya sampah?, yang kadang membuat banyak orang muntah ketika adegan blue film mempertunjukkan lidah menjulur menjilatinya? Sesederhana itu kah? Bukankah percumbuan sperma dan sel telur bergulat, bergumul membentuk raga kasar. Bagaimana kata kitab dan sastra tentang Atma ?

Di jelaskan atma adalah motor dari raga, dia berasal dari percikan suci cahaya ilahi, atma lah yang akan menyelesaikan tugas kodrati. Kodrati semacam apakah? Bahkan sampai sekarang pun aku belum tahu tugas kodrati semacam apa yang akan ku jalani?. Lebih lanjut kitab dan sastra menjelaskan, sebelum atma masuk dalam raga kasar, dia mempunyai perjanjian dengan sang ilahi, mau jadi dan menjalankan tugasnya, sebelum kembali lagi kepada muasalnya.

Seandainya memang seperti itu, berarti aku tidak ada pilihan lain, selain hanya menjalankan tugas dari yang ilahi. Mungkin betul !, yang harus dicari lebih dahulu adalah swadarma dari diri. Saat swadarmaditemukan aku mungkin lebih rela dan menerima amanat yang kuemban di dunia, mungkin layaknya Arjuna saat diberitahukan pengetahuan oleh Kresna tentang swadarmanya sebagai ksatriya. Tapi itu adalah Arjuna sebagai manusia ksatria, sedang Aku apa?

Hanya manusia biasa yang belum mampu menemukan swadarmanya. Atau lebih baik ku ikuti kata karibku “biarkan dia bekerja dalam dirimu dan berjalanlah agar bisa kau rasakan lalu temukan” . Ada terang setitik yang bisa aku tangkap dari kalimat karibku, Bukan mencari tapi berjalan, ketika mencari kita tidak akan bisa menemukan kesejatian, mencari cenderung subyektif, lebih pas jika berjalan menemukan apa saja disepanjang perjalanan tanpa ada keinginan untuk mencari yang sarat akan pamrih. Dengan berjalan akan bisa menimbang dan merasakan, dengan mencari akan ada pembenaran. Dengan merasakan apa yang ada didalam diri bekerja akan ku ketahui kehadirannya.Mungkin dengan begitu tidak lagi dan usai untuk bertanya. 

Juni  2008

Leave a Reply