Home » Article / Essay / Opinion / Sketch » Mengurai Krisis Listrik di Bali : Ada Bara, Dibalik Dinginnya Danau Buyan

Mengurai Krisis Listrik di Bali : Ada Bara, Dibalik Dinginnya Danau Buyan

image credit: http://id.balibalibeach.com

image credit: http://id.balibalibeach.com

Pagi itu, pukul sepuluh, kabut masih rendah dipermukaan Danau Buyan yang dingin. Sekumpulan burung pagi masih terdengar berkicau bersahutan, mengiringi kayuh sampan petani yang mencari rumput di sisi lain danau.

Danau Buyan, terletak di Pancasari, Kabupaten Buleleng, Bali. Tertelak ditengah-tengah antara Danau Bratan dan Danau Tamblingan.

Sebelum tiba di bumi perkemahan Danau Buyan, kami menyusuri jalan menanjak dan sedikit berliku. Sejauh mata memandang, warna air danau terasa begitu mengasyikkan. Perlahan, kabut tipis mulai membatasi jarak pandang, dan hawa dingin terasa begitu menusuk hingga ke tulang.

Saat tiba di bumi perkemahan Danau Buyan, kami disambut perempuan muda tigapuluh tahunan yang tampak lincah, mendatangi kami sembari menanyakan maksud kedatangan kami.

“selamat pagi pak, mau kemana?” sapanya hangat kepada kami

Kami pun menjelaskan maksud kedatangan ke tempat ini, dan dengan sigap perempuan muda ini menjawab,

“oh wartawan, kalau mau liputan bapak harus ijin ke KSDA, tetapi kalau mau jalan-jalan bapak dan kawan-kawan harus membayar 5 ribu rupiah per-orang,” jelasnya.

Tidak lebih dari sepuluh menit semua urusan pun beres, Kadek Merta nama perempuan muda itu, ternyata penjaga areal perkemahan sekaligus merangkap tukang parkir kendaraan.

Mengusir dingin, kami pun berbegas menghampiri warung disudut lapangan, di warung mungil ini, kami berlima masing masing memesan segelas kopi dan sebungkus kacang. Sembari berbincang dengan pemilik warung, kami pun mulai menghabiskan kacang rebus dengan sigap karena perut yang kosong sejak kami berangkat dari Denpasar.

Penjaga warung ini adalah Tuawan, nenek 65 tahun yang sudah 30 tahun tinggal dan berjualan di tepian danau. Nenek dengan enam cucu ini berdagang sambil bertani di tanah warisan mertuanya. Waktu pun berlalu, perbicangan kami dengan ibu pemilik warung akhirnya menyentuh proyek geotermal yang sempat mengundang perhatian semua orang lebih kurang tiga tahun silam.

Tuawan mengatakan, tak ada perubahan berarti terhadap tanah tempatnya mengais rejeki, maupun lingkungan di sekitar Danau Buyan, sebelum maupun sesudah proyek yang digagas ketika Dewa Bratha masih menjadi Gubernur Bali.

“Tak ada perubahan. Semua masih seperti sediakala,” katanya.

“Dulu (sebelum Geothermal ada, red), air danau jauh di belakang rumah saya. Tetapi sekarang, air danau justru hanya beberapa meter saja berada di belakang rumah saya,” jelasnya.

Dari Wiranto, pedagang sosis keliling yang sudah beberapa tahun menjajakan dagangannya di sekitar Danau Buyan, juga tak pernah merasakan perubahan langsung terhadap lingkungan sekitar setelah Geothermal beroperasi.

“Dari sejak kali pertama saya berdagang di sini, tak ada perubahan sama sekali. Cuacanya tetap seperti ini (dingin, red), air di danau juga tak menyusut. Pun halnya dengan hutan, masih lebat,” ungkapnya.

Pendapat keduanya tentu bertolak belakang dengan hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilansir oleh tim independen pengkaji AMDAL Geothermal Fakultas Teknik Universitas Udayana, Prof. DR. IGB Wijaya Kusuma.

Dalam kajiannya Wijaya Kusuma menegaskan, proyek Geothermal rentan terjadinya bahaya longsoran (land subsidence) sangat tinggi, karena daerah di sekitar lokasi tergolong pada daerah rawan gempa tektonik. Dalam sehari terjadi lebih dari 1000 getaran seismik.

Kemudian, gempa besar di sekitar lokasi yang terjadi pada tahun 1995 menunjukkan bahwa lokasi sekitar proyek memiliki tingkat stabilitas yang sangat rendah.

Beberapa longsoran yang terjadi pada pegunungan di sekitar lokasi juga menunjukkan rendahnya stabilitas di sekitar kawasan tersebut.

Hal ini juga ditunjang oleh pengujian laboratorium dimana kawasan sekitar Bedugul memiliki sifat lempung berpasir.

Dari kajian terhadap land subsidence, maka disimpulkan bahwa Dampak Besar Land Subsidence tidak dapat dikelola. Dampak besar Land Subsidence harus dikaji secara komprehensif dan diperlukan kerjasama dengan Balai Meteorologi dan Geofisika untuk mendapatkan data akurat harian terkait dengan kondisi tersebut.

Selanjutnya, dari kajian tim independen ini dinyatakan bahwa AMDAL PLTP Bedugul tidak layak untuk direkomendasikan.

Dampak lainnya adalah menurunnya potensi air danau, air tanah dan mata air. Berdasarkan data lapangan dari hasil uji sumur produksi BEL-03, maka uap yang dihasilkan dari proyek mengandung kadar air yang cukup tinggi yang harus diinjeksikan kembali ke dalam tanah agar proses dikategorikan renewable.

Berdasarkan data lapangan, maka dari tiga sumur produksi yang sudah dibuat (BEL-01, 02 dan 03), maka terlihat hanya BEL-03 yang berpotensi untuk menghasilkan energi panas. Dengan demikian, rasio pengeboran menjadi 1:3, yakni dari minimum tiga pengeboran akan didapatkan satu sumur yang produktif.

Dalam surat yang dikirim kepada Kepala Bapedalda Provinsi Bali, Wijaya menganalisis, secara logika peluang terjadinya total pengeboran di kawasan proyek adalah 125 kali (dari 40 kali sesuai perencanaan). Dan dengan mudah bisa dihitung berapa volume air yang diperlukan untuk proses pengeboran tersebut.

Serta yang dikhawatirkan adalah pengeboran menggunakan air danau yang berakibat pada menurunnya potensi air danau serta berdampak pada menurunnya air tanah dan mata air.

Mengacu pada Makalah Seminar yang dibuat oleh BEL dan dipresentasikan pada World Geothermal Congress 2005 di Turki, maka potensi panas bumi di Bali adalah 355.5 MWe tapi dengan luas tapak bor adalah 35 kilometer persegi. Untuk 175 MWe diperlukan luas prospek sebesar 17,5 kilometer persegi.

Dengan demikian luas prospek yang akan dikelola sangatlah besar (1750 ha), yang secara langsung akan memutuskan daur hidrologi dan resapan air ke tanah (akibat pengeboran).

Hal ini akan berdampak buruk bagi air danau, air tanah dan mata air dan berdampak besar bagi sistem pengairan di Bali karena kesemuanya mengalir ke wilayah Buleleng, Tabanan, Gianyar, Badung dan Denpasar.

Dari sidang kajian tersebut dinyatakan bahwa AMDAL PLTP Bedugul tidak layak untuk direkomendasikan. Dampak terakhir dalam anlisa Wijaya adalah, menurunnya kelimpahan dan keanekaragaman jenis flora dan fauna juga sangat tergantung pada luas prospek panas bumi.

Dengan luas proyek yang cukup besar, maka terjadi peningkatan kebisingan, menurunnya kualitas udara dan air, sehingga akan berakibat pada menurunnya keanekaragaman fauna, akibat terganggunya ekosistem dan habitat mereka.

Luas proyek yang cukup besar akan mengakibatkan terjadinya perambasan hutan, sehingga secara langsung akan menurunkan kelimpahan jenis flora, terlebih pepohonan di sekitar lokasi adalah tegakan penyangga murni yang jenisnya hanya spesifik di Bali.

Ia juga mengutip hasil kajian LIPI yang menunjukkan bahwa kawasan sekitar lokasi memiliki tingkat sensitivitas tinggi untuk kawasan pegunungan, tingkat sensitivitas sedang untuk kawasan kaki pegunungan dan tingkat sensitivitas rendah untuk wilayah hunian.

Selanjutnya, kalau dipetakan maka wilayah tersebut dikategorikan sebagai mintakat 1A dan 1B. Dari sidang kajian tersebut dinyatakan bahwa AMDAL PLTP Bedugul tidak layak untuk direkomendasikan.

Kendati begitu, kawasan sejuk nan asri di sekitar Danau Buyan nampaknya akan berubah seperti yang dianalisis oleh Wijaya.

Pasalnya, Gubernur Made Mangku Pastika saat menerima anggota DPD RI dan PLN perrwakilan Bali, menyetujui agar proyek pembangkit listrik yang saat ini mangkrak, dioptimalkan lagi.

Salah satunya, tentu saja Geothermal. Apalagi, hingga hari ini, Manager Operasional Bali Energi, Johnson, menurut penuturan petani yang ditemui di sekitar lokasi, kembali gencar melakukan sosialisasi dan pendekatan ke masyarakat sekitar, tentang rencana proyek tersebut.

“Bapak juga sedang gencar lagi melakukan sosialisasi tentang proyek ini. Karena dia juga memiliki saham di Geothermal itu,” tutur wayan, penduduk sekitar yang bekerja di rumah Johnson. Sayang kami tak dapat bertemu langsung dengan Johnson.

Bali memang membutuhkan pasokan listrik berlebih agar krisis listrik segera teratasi. Hanya saja, tatanan alam sekitar patut juga dipertimbangkan, agar tak menimbulkan dampak dikemudian hari, yang justru menimbulkan kerugian.

Kami tahu, dibalik dinginnya danau yang eksotis ini, ternyata tersimpan bara, nenek murah senyum sepeerti Tuawan pun menghetahui, jika tak jauh dari tempat tinggalnya terdapat mega proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (Geothermal), yang sebentar lagi akan membara. (July @2010)

Naskah :  (Saichu Anwar, Boby Andalan, Gentry Amalo, Mahardika,  Sofyan)

 

Comments

  1. ADEL says:

    terimakasih untuk artikelnya :)

Leave a Reply