Renungan

renungan-hidup

Image credit: http://www.dakwatuna.com

Waktu itu seluruh kehendak tidak ada yang terwujud, apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati, sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak. Banyak ulama berbuat maksiat. Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi. Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam. Sinom. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1). Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930

Tujuh Puluh Sembilan tahun silam. satu karya sastra kuna sepertinya ingin memberitahukan pada kita, situasi kekikinian, gambaran dari Kondisi Negara Indonesia. Lihat saja ! Para – manusia yang diberikan mandat untuk memimpin bangsa, seperti sudah hilang moralitasnya. Pengelolaan Negara hanya didasarkan perhitungan untung rugi untuk kepentingan pribadi atau golongan. Keadilan dan kemakmuran rakyat sebagai cita-cita pendirian bangsa dan Negara, semakin jauh didekati apalagi mau diraih. Berbagai kebijakan atas nama kepentingan rakyat jadi salah kaprah, dan bersifat “situasional buta “ (tanpa pertimbangan yang matang hanya bersifat populis untuk kepentingan politis kekuasaan semata). Terlalu dibuat-buat,tidak mendasar, dan mencoba alihkan perhatian rakyat.

Bagaimana kemudian dengan angka penggangguran yang sudah hampir mencapai angka 11 juta jiwa lebih, harga beras yang tiap hari semakin naik, kelangkaan gas dan minyak tanah, biaya pendidikan yang makin mencekik, jeritan korban bencana alam, jaminan penanganan kesehatan rakyat, pemberantasan korupsi yang makin tidak jelas, dan antrian permasalahan lainnya? Tanggungjawab pemerintah sudah semakin menipis, sebagaian besar rakyatpun enggan dan mengambil sikap tidak perduli dengan apa yang terjadi dalam sistem pengelolaan Negara. Hal ini akan berpengaruh besar pada pola kehidupan masyarakat. Masyarakat kebanyakan sekarang lebih disibukkan dengan urusan perut . Dalam kondisi semacam ini, hubungan sosial yang terjadi pun dibangun diatas kepura-puraan. Kebaikan hanya menjadi topeng untuk menutupi “borok berulat”. Orang yang dulu bisa dijadikan panutan tidak lagi bisa dipegang kata-katanya. Tatanan sosial kemasyrakatan pun hancur berantakan, tidak ada lagi norma tidak ada lagi nilai !. Mereka akan saling tebas, saling tipu, saling bunuh, saling tindas, menggadaikan harga diri hanya semata-mata untuk mendapatkan dewa-dewi materi . Situasinya akan semakin rumit jika masing-masing diantara kita tidak segera menyadarinya. Untuk memperbaikinya harus berjalan bersama – sama tidak dari atas kebawah, atau dari bawah ke atas tapi dimulai dari atas dan di mulai dari bawah bertemu ditengah-tengah membentuk satu tatanan baru. Seandainya kita tidak mau untuk memperbaiki kondisi ini, yakinlah masa kehancuran sebagai Bangsa dan Negara akan segera tiba. Karena Tuhan pun tidak rela jika anugerah dan kenikmatan yang sudah diberikan disia-siakan begitu saja.

@SA,2009

Leave a Reply