Home » Article / Essay / Opinion / Sketch » Sekedar Dugaan Terhadap Indonesia

Sekedar Dugaan Terhadap Indonesia

Image credit :http://www.globalindonesianvoices.com

Image credit :http://www.globalindonesianvoices.com

Bagian I

KHUSUSSON ILLAH RUUHI INDONESIA…………

Saat itu belum terjadi kesepakatan, belum ada Indonesia seperti sekarang. Wilayahnya merupakan negara – negara kecil (kerajaan) yang mempunyai otonomi sendiri. Sampai tiba saatnya orang negeri seberang datang, atas nama ekonomi dan perluasan wilayah, mereka menjajah…..

Pemberontakan dan perlawanan dilakukan oleh negara – negara kecil tersebut untuk mengusirnya dari tanah mereka, karena tak rela daerah nya terganggu dan diambil alih, cukup lama usaha itu dilakukan dan mereka gagal. Dalam proses perlawanan, timbul kesadaran rakyat di masing-masing negara-negara itu. mereka sadar perjuangan tidak bisa dilakuan sendiri-sendiri, melainkan bersama.

Dan momentum datang, 28 oktober 1928 muncul kesepakatan untuk membentuk suatu konsep awal negara yang bernama Indonesia. Cita-cita yang lahir dari sebuah keputusasaan, penderitaan, dan harapan untuk menjadikan keadaan yang lebih baik. Berbangsa, Berbahasa dan Bernegara satu yaitu “Indonesia” dijadikan jargon dan semangat untuk mengusir penjajahan dari bumi mereka. Rasa solidaritas dan persatuan muncul ketika itu, hanya BERLANDASKAN nasib yang sama sebagai bangsa yang terjajah.

Meskipun Indonesia hanyalah negara “angan-angan” tapi mampu meng-ilusi perjuangan rakyatnya. “Angan-angan”,… karena akar budaya, karakter serta konsep yang tidak jelas. Bukan berarti meyepelekan para founding father kita tapi kenyataan mengatakan seperti itu…

Singkat cerita, 17 agustus 1945 negara angan – angan “Indonesia” menyatakan “kemerdekaanya”, dalam arti lepas dari penjajahan….babak baru dimulai, Indonesia angan-angan diturunkan dan dipaksakan statusnya menjadi nyata……permasalahan pun muncul, Indonesia tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya, pemberontakan, ketidak setujuan dengan realita Indonesia sebagai negara yang baru lahir, mulai bermunculan. Tercatat dalam sejarah, pemberontakan DI TII, Permesta, PKI Madiun, Piagam Jakarta, Gestok 65 yang penuh rekayasa, RMS, GAM, Papua Merdeka, dan akan banyak lagi….?

Mungkin sudah saatnya kita semua yang dulu sepakat dengan namanya Indonesia untuk merenung kembali. Apakah kita akan tetap mempertahankan – Nya, apakah tidak lebih baik dan dengan berbesar hati untuk sepakat berpisah, menentukan nasib masing-masing, ketika kebersamaan malah menimbulkan kesengsaraan. Kita setidaknya pandai menangkap realita, selama perjalanannya, Indonesia yang kita bentuk bersama tidak merubah apa-apa, Indonesia bukan lagi wahana mencapai keadilan dan kesejahteraan rakyatnya, Indonesia telah berubah menjadi senjata untuk membunuh rahimnya sendiri yang telah susah payah melahirkannya. Orang – orang yang meng klaim Indonesia sebagai miliknya sudah menjadi durhaka, lebih baik kita berdoa untuk yang terkhir kalinya “khussuson illah ruuhi Indonesia ….Alfateha…..”!

Bagian II

Indonesia diantara Timur dan Barat

Semenjak perang dunia I, Indonesia masuk dalam pertempuran ideologi timur dan barat, sosialisme – komunisme mewakili timur dan kapitalisme mewakili barat (pertempuran adik dan kakak kandung). Awal lahirnya Indonesia tidak lepas dari kepentingan tersebut. Secara tidak sadar Indonesia menjadi ladang kurusetranya, sebagai “tempat” tentu saja bermakna kata benda. Indonesia hanya sekedar penonton dan mendapatkan akibat dari pertempuran itu. Karakternya sebagai bangsa dan negara pun mati dan larut selama pertempuaran itu masih ada. mereka sudah ikut mati terbunuh dalam pertempuran antara timur dan barat.

Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh sang adik dari barat, di tandai dengan runtuhnya tembok berlin dan tembok komunisme – soviet. Sang adik makin merejalela, arogansi dan keinginan menjadi penafsir tunggal planet bumi makin menjadi. Harusnya dengan selesainya peperangan, Indonesia sebagai ladang pertempuran paling tidak mulai bisa memperbaiki dirinya dari kerusakan-kerusakan. Kenyataan mengatakan lain, sang adik dari barat (kapitalis – Amerika) tidak rela meninggalkan ladang pertempuran, malah mendirikan benteng – benteng baru yang manipulatif, seperti HAM di terapkan secara “dumping” di negeri itu. Selanjutnya, belum lagi Indonesia mampu mengenali karakternya sendiri sebagai bangsa sudah harus dicekoki dan dipaksa memahami faham-faham baru. Indonesia tidak bisa lepas dari jaring-jaring yang ditebar oleh sang adik dari barat. Kapitalisme mengerti betul strategi yang dipakai untuk membenamkan cakar-cakarnya. Berpelumas aliran modal, investasi dan bantuan hutang adalah kunci pas untuk membuat Indonesia bagai kerbau tercocok hidungnya. Pintu Indonesia terbuka lebar, Perisai Ideologi Pancasila yang sangat diagungkan rakyatnya tak mampu membendung dan menahan gempuran sang adik dari barat. Lambat tapi pasti kita menjadi bagian dari pola permainan yang dilancarkan oleh kapitalisme. Budaya plagiat, konsumerime, individualistis tidak bisa kita hindari lagi, hingga kita tidak bisa mengenali saudara sebagsa dan setanah air. bahkan kita rela membunuh saudara kita sendiri demi menyenagkan sang adik dari barat. Mental kita rusak, kesadaran sudah tidak ada lagi dan pertanyaannya kemana solidaritas yang pernah dijadikan landasan ketika kita sepakat membentuk bangsa yang namanya Indonesia ?

Bagian III

Tafsir baru terhadap kondisi Indonesia

Korban pertempuran timur dan barat, tidak mengenal lagi karakter budaya sendiri, krisis legitimasi rakyat terhadap institusi negara, semua itu terjadi ketika fase kapitalisme mengalami kemapanan di Indonesia. Kekuasaan negara yang absah hanya menjadi tunggangan dan melindungi para pengusaha hitam, serta menjadi perisai bagi mekanisme pasar yang berujung pada penghancuran diri sendiri. Lihat saja undang-undang perburuan yang baru, no.13 tahun 2003 beserta revisinya. Jelas tidak ada keberpihakan terhadap kaum buruh.

Tidak hanya itu, krisis yang sudah masuk ke sum-sum kehidupan sosial telah membuat negara ini semakin tidak menentu dan tidak tahu jalan apa yang harus dipakai guna mencapai tujuan seperti yang diamanatkan oleh Undang Undang dasar 1945, “masyarakat yang adil dan makmur”. kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini sama sekali tidak merubah perbaikan nasib rakyat. Malah efek yang terjadi adalah munculnya rivalitas antar masyarakat, konflik horizontal terpampang di depan mata kita. Masing-masing kelompok merasa paling benar, tanpa malu-malu lagi mengklaim dirinya paling benar. Ruang saling klaim terbuka lebar dan sengaja dibiarkan oleh kekuasaan, selain kekuasaan sendiri dalam situasi bingung, ada indikasi pengalihan issue untuk menghapuskan ingatan rakyat terhadap tanggungjawab negara, dan ujung-ujungnya munculnya negara sebagai pahlawan yang kesiangan dengan kaki tangannya para militer dan sipil militer. Represi adalah sebuah kata dan tindakan yang pasti

Kalu kita yakin akan teori revolusi, sebenarnya saat ini kita berada dalam situasi revolusioner. Kita harusnya sadar, “momentum itu akan segera datang”. Yang perlu di lakukan adalah mempersiapkan suatu konsep tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baru. Refleksi dari momentum 1998, kita tidak mau lagi perjuangan kita dicuri oleh orang-orang yang masih senang bermain-main untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Perubahan gerakan sosial baru mungkin perlu segera dipikirkan dan segera disosialisasikan. Apa perlu gerakan sosial kita arahkan menuju sebuah gerakan politik. Ide pembentukan sebuah partai rakyat (lokal) mungkin perlu dipikirkan. Solidaritas dan keterbukaaan harus menjadi roh dari gerakan partai poltik ini. Solidaritas lah yang bisa melepaskan kita dari batas – batas etnisitas, ras dan agama. Pembentukan partai rakyat tidak didasari oleh sebuah keinginan pengambil kekuasaan semata, tapi bagaimana partai rakyat ini dipakai sebagai alat / wadah untuk mencerdaskan rakyat atau audiensnya secara politik, sehingga tidak terjadi gap yang sangat jauh antara masa pemilih dan pengurus partainya (Intinya adalah pendidikan). Dengan demikian akan ada Kontrol yang sangat kuat dari rakyat. Secara teknis partai ini mungkin selama 10 tahun atau bahkan 20 tahun kedepan tidak ikut dalam percaturan politik, tapi lebih ditekankan bagaimana menyadarkan rakyat akan hak-hak politiknya. Sampai nantinya matang dan siap masuk dalam percaturan poltik dalam konteks perebutan kekuasaan secara konstitusional atau tegas mengambil pilihan untuk tetap di jalur oposisi.

Ketika kesadaran politik rakyat muncul kita akan lebih mudah melawan kapitalime global yang semakin mengganas. Dengan dukungan dari kekuatan rakyat yang tersadarkan secara politik pengkonsolidasian kekuatan dalam negeri akan lebih mudah karena rakyat akan tahu konsukuensi dari tindakan yang diambil. pemerintah atau kekuasaan tidak akan bisa berbuat apa-apa ketika rakyat tersadarkan akan hak-hak politiknya. Kekuatan rakyat ini kemudian diarahkan untuk menekan pemerintah untuk segera mengakhiri hubungan dengan negara-negara kapitalis. Rakyat akan siap hidup dalam tekanan poltik Internasional, sengsara 50 tahun kedepan tidak akan menjadi masalah yang berarti, guna menuju kejayaan bangsa yang bermartabat.Kita mungkin tidak perlu selamanya membayangkan bahwa Indonesia akan terus ada. Suatu saat mungkin bentuk negara kita berubah, tidak lagi kesatuan tapi mungkin federal, atau apapun namanya, bahkan kalau sampai berubah kembali kepada sistim kerajaan kita tidak perlu khawatir. Tesisnya adalah ketika solidaritas antar rakyat dimasing-masing daerah itu ada maka rasa kemanusiaan / HUMANISME akan selalu mengiringinya.

 

@SA, 2004

Leave a Reply