Terminal

Pupuh pucung, bait I,

“ Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara” .

(Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan. (Mengadeg, 1975).

Dalam sebuah napak tilas, banyak hal kita temukan, baik sengaja ataupun tidak. Semuanya mengantarkan kita pada sebuah transisi, menentukan apa, dan menuju kemana, arti dari sebuah perjalanan. Diibaratkan tempat transisi, atau sebuah “terminal”, perlu sebuah keputusanuntuk memilihnya sebagai tempat persinggahan. Persinggahan adalah langkah awal, kemana kita akan menuju.

Dalam proses perjalanan memang akan sangat sulit, penuh dengan aral belukar untuk sampai ditempat tujuan. Bagi orang yang tahu makna sebuah perjalanan, tidak akan bingung. Lebih mudah baginya melanjutkan perjalanan sampai di tujuan yang dipilihnya. Tidak menengok ke kiri dan ke kanan. Lempeng, sampai Dia temukan kebenaran yang bersifat rahasia itu. Tidak mengumbar cerita karena tahu ruang, tempat dan waktu untuk membicarakannya. Tapi karena kesadaran, perjalanan akan ditempuh dengan mudah dan akhirnya selamat ditempat tujuan.

Bagaimana dengan mereka yang sejak awal tidak tahu harus melangkah, menuju kemana ?, dan apa yang dicari ?. Banyak orang jenis ini ketika sampai pada persinggahan, bingung dan memaksakan diri untuk menjadi puas. Menganggap dirinya sudah menemukan apa yang sebetulnya belum didapatkannya. Kerap pengakuan atau cap dilekatkan oleh dan pada dirinya, yang sebenarnya cap itu sendiri beda dengan isinya.

Mereka akan berbicara kepada siapa saja, “ Aku sudah temukan itu ! “, “inilah yang benar !”, “argumennya seperti ini !”. Begitulah pernyataan yang keluar dari mulut orang yang menganggap dirinya sudah menemukan, penuh, dan berisi. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dipenuhi dan apa yang sudah diisi. Realitanya semua perilaku, dan tindakan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Tanpa kesadaran dan hanya kemabukan (ekstase) dalam proses perjalanan membuat mereka terjebak dalam lingkaran oyot mimang(jalan buntu), berputar-putar disitu-situ saja, tidak berkembang, tidak pernah sampai pada tempat yang dituju, yang ada hanya merasa telah sampai.

Ketika “merasa” telah sampai, egoisme menguasai alam pikirannya, merasa paling benar, apa yang tidak sesuai dengan pandangannya harus dibumi hanguskan. Manusia-manusia inilah yang membuat tatatan dunia menjadi rusak. Beberapa ciri yang mampu dilihat dari prilaku manusia jenis ini pertama, menciptakan Tuhan, dengan metode atas nama, semua keputusan dan tindakan selalu mengatas namakan tuhan, dan kita tidak pernah tahu Tuhan apa yang ada dalam alam pikirannya, kedua saat melembagakan ajaran atau agama sebagai sesuatu yang standard dan mutlak (absolut ) tidak boleh diperdebatkan, para umat kemudian ditakut-takuti dalam menjalankan ibadahnya dan yang terakhir menciptakan mesin lembaga pendidikan yang bersifat eksploitatif. Yang muncul adalah satu sikap fanatisme berlebihan yang tidak terarah dan menjadi sangat fundamentalis. Itulah puncak karyannya yang tertinggi.

Dalam kurun waktu perjalanan jaman, dua gambaran ini, selalu kita temukan. Sudah saatnya manusia menanyakan kembali jati dirinya. Dalam sebuah terminal atau transisi kita perlu menentukan sikap. Silahhkan memilih menu sudah tersedia !!!.
published at Balipost 2007

Leave a Reply